Minggu, 12 Desember 2010

InfO seHat

"Tari Tango dapat membantu meningkatkan keseimbangan dan mobilitas pasien dengan penyakit Parkinson, yaitu kondisi progresif dari gangguan saraf."

 

 

 

"Aroma jeruk bisa membuat Anda merasa lebih positif, mengurangi kecemasan dan lebih tenang, sehingga bisa membantu mengatasi stres yang dialami sehari-hari."

 

 

 

"Bernapaslah dengan benar karena punya pengaruh dasar pada tubuh, pikiran dan jiwa. Ketika dihirup, oksigen terbawa ke dalam tubuh dan memicu perubahan nutrisi menjadi bahan bakar. Ketika dihembuskan, tubuh dibersihkan dari limbah beracun karbon dioksida."

 

 

"Kurangi nasi putih dan mengganti dengan ubi, singkong, jagung atau pisang lebih banyak manfaat kesehatannya, karena merupakan karbohidrat kompleks dengan kadar gula rendah dan serat tinggi."

 

 

 

"Berjalan kaki secara rutin dengan jarak tempuh minimal 10 km dalam sepekan dapat mejaga kesehatan otak, sehingga mengurangi risiko kepikunan."

 

 

 

 

 

CopY FroM; http://www.detikhealth.com/

Sabtu, 04 Desember 2010

Ciri-ciri impoteN

Disfungsi ereksi (DE) atau yang biasa dikenal dengan nama impotensi memang menjadi momok yang menakutkan bagi kaum lelaki. Pasalnya yang terganggu bukan cuma urusan syahwat saja, namun juga menyangkut harga diri seorang lelaki. Padahal disfungsi ereksi sangat terkait dengan gaya hidup dan penyakit.

Meskipun ada juga yang sifatnya disfungsi ereksi temporer, karena berhubungan dengan faktor psikis. Misalnya suami mendadak impoten dengan pasangan karena ternyata dia memendam rasa sakit hati terhadap pasangannya. Namun saat harus 'bertempur' dengan wanita lain, alat vitalnya masih berfungsi normal.

Apakah semua disfungsi harus diobati dengan obat resep dokter? Ternyata tak semua kasus 'melempemnya' kejantanan harus ditangani dengan obat-obatan.

Untuk kasus DE terkait faktor psikis, biarpun diberi obat, namun jika akar masalahnya tidak ditemukan, maka hasilnya akan sia-sia.
Biasanya jika DE karena faktor psikis, jika akar masalahnya ketemu, maka alat vital laki-laki akan berfungsi normal lagi. Tak jarang, kasus DE yang Anda dengar ternyata hanya sebatas isapan jempol belaka tanpa dilandasi bukti ilmiah. Misalnya mengenai penyebab impotensi itu sendiri.

Namun Anda boleh percaya dengan fakta yang akan dipaparkan berikut:
1. Kebiasaan merokok memberikan risiko terjadinya DE hingga 2,74 kali lipat dibanding bukan perokok (American Journal of Epidemiology, 2004)
2. Laki-laki yang kegemukan (obesitas) memiliki peluang mengalami DE dalam kurun waktu 14 tahun, lebih besar 90% dibanding yang berat badannya normal (Journal of Urology, 2006)

3. Kurang lebih 18% pria Amerika berusia di atas 20 tahun mengalami DE. Selain itu, sekitar 51,3% penderita Diabetes mellitus (kencing manis) di AS mengalami impotensi (American Journal of Medicine, 2007)

4. Olahraga mengurangi risiko terjadinya DE. Misalnya olahraga lari selama tiga jam setiap minggu atau bermain tenis selama lima jam per minggunya akan menurunkan risiko terjadinya DE hingga 30% (Annals of Internal Medicines, 2003)

5. Disfungsi ereksi dua kali lipat lebih banyak ditemukan pada orang yang mengalami depresi. Sebaliknya pada kelompok pasien yang mengalami DE sekitar 82% mengalami depresi. Seperti lingkaran setan. 
 
 
copy from; http://www.i-dus.com/

Belajar Kecerdasan Emosi

Apa itu kecerdasan emosi? Menurut Wikipedia, Kecerdasan Emosi atau Emotional Intelligence (EI) menggambarkan kemampuan, kapasitas, keterampilan atau, dalam kasus EI sifat model, kemampuan diri, untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengelola emosi diri sendiri, orang lain, dan kelompok.
Mengapa begitu penting? Emosi berkaitan dengan keputusan dan tindakan. Jika emosi tidak dikelola dengan baik, masihkah berharap bahwa keputusan dan tindakan kita juga baik?
Dari berbagai literatur, saya menemukan ada 5 dasar kecerdasan emosional. Kelima dasar itu adalah

  1. Mengetahui perasaan Anda dan menggunakannya untuk membuat keputusan dalam hidup Anda.
  2. Mampu mengatur kehidupan emosional Anda tanpa dibajak oleh emosi-emosi negatif seperti depresi, marah, kebingungan, dan sebagainya.
  3. Bertahan dalam menghadapi kemunduran dan menyalurkan dorongan Anda untuk mengejar tujuan-tujuan Anda.
  4. Empati – membaca emosi orang lain tanpa mereka memberi tahu Anda apa yang mereka rasakan.
  5. Penanganan perasaan. Termasuk kemampuan membaca dan mengartikulasikan emosi yang tersirat
Lalu siapa teladan kita dalam hal kecerdasan emosi? Tentu saja, tiada lain dan tiada bukan, teladan kita adalah Rasulullah saw. Banyak literatur yang membahasnya, tetapi Al Quran dan Hadits-lah sumber rujukan utama kita.
Jika kita meneladani bagaimana cara Rasulullah saw berinteraksi dengan orang-orang sekitar beliau, dengan keluarga, bahkan dengan orang-orang yang menentang beliau, kita bisa petik bagaimana kecerdasan emosi beliau yang mengagumkan. Itulah praktek utama kecerdasan emosi.

copy from; http://www.motivasi-islami.com/