Minggu, 12 Desember 2010

InfO seHat

"Tari Tango dapat membantu meningkatkan keseimbangan dan mobilitas pasien dengan penyakit Parkinson, yaitu kondisi progresif dari gangguan saraf."

 

 

 

"Aroma jeruk bisa membuat Anda merasa lebih positif, mengurangi kecemasan dan lebih tenang, sehingga bisa membantu mengatasi stres yang dialami sehari-hari."

 

 

 

"Bernapaslah dengan benar karena punya pengaruh dasar pada tubuh, pikiran dan jiwa. Ketika dihirup, oksigen terbawa ke dalam tubuh dan memicu perubahan nutrisi menjadi bahan bakar. Ketika dihembuskan, tubuh dibersihkan dari limbah beracun karbon dioksida."

 

 

"Kurangi nasi putih dan mengganti dengan ubi, singkong, jagung atau pisang lebih banyak manfaat kesehatannya, karena merupakan karbohidrat kompleks dengan kadar gula rendah dan serat tinggi."

 

 

 

"Berjalan kaki secara rutin dengan jarak tempuh minimal 10 km dalam sepekan dapat mejaga kesehatan otak, sehingga mengurangi risiko kepikunan."

 

 

 

 

 

CopY FroM; http://www.detikhealth.com/

Sabtu, 04 Desember 2010

Ciri-ciri impoteN

Disfungsi ereksi (DE) atau yang biasa dikenal dengan nama impotensi memang menjadi momok yang menakutkan bagi kaum lelaki. Pasalnya yang terganggu bukan cuma urusan syahwat saja, namun juga menyangkut harga diri seorang lelaki. Padahal disfungsi ereksi sangat terkait dengan gaya hidup dan penyakit.

Meskipun ada juga yang sifatnya disfungsi ereksi temporer, karena berhubungan dengan faktor psikis. Misalnya suami mendadak impoten dengan pasangan karena ternyata dia memendam rasa sakit hati terhadap pasangannya. Namun saat harus 'bertempur' dengan wanita lain, alat vitalnya masih berfungsi normal.

Apakah semua disfungsi harus diobati dengan obat resep dokter? Ternyata tak semua kasus 'melempemnya' kejantanan harus ditangani dengan obat-obatan.

Untuk kasus DE terkait faktor psikis, biarpun diberi obat, namun jika akar masalahnya tidak ditemukan, maka hasilnya akan sia-sia.
Biasanya jika DE karena faktor psikis, jika akar masalahnya ketemu, maka alat vital laki-laki akan berfungsi normal lagi. Tak jarang, kasus DE yang Anda dengar ternyata hanya sebatas isapan jempol belaka tanpa dilandasi bukti ilmiah. Misalnya mengenai penyebab impotensi itu sendiri.

Namun Anda boleh percaya dengan fakta yang akan dipaparkan berikut:
1. Kebiasaan merokok memberikan risiko terjadinya DE hingga 2,74 kali lipat dibanding bukan perokok (American Journal of Epidemiology, 2004)
2. Laki-laki yang kegemukan (obesitas) memiliki peluang mengalami DE dalam kurun waktu 14 tahun, lebih besar 90% dibanding yang berat badannya normal (Journal of Urology, 2006)

3. Kurang lebih 18% pria Amerika berusia di atas 20 tahun mengalami DE. Selain itu, sekitar 51,3% penderita Diabetes mellitus (kencing manis) di AS mengalami impotensi (American Journal of Medicine, 2007)

4. Olahraga mengurangi risiko terjadinya DE. Misalnya olahraga lari selama tiga jam setiap minggu atau bermain tenis selama lima jam per minggunya akan menurunkan risiko terjadinya DE hingga 30% (Annals of Internal Medicines, 2003)

5. Disfungsi ereksi dua kali lipat lebih banyak ditemukan pada orang yang mengalami depresi. Sebaliknya pada kelompok pasien yang mengalami DE sekitar 82% mengalami depresi. Seperti lingkaran setan. 
 
 
copy from; http://www.i-dus.com/

Belajar Kecerdasan Emosi

Apa itu kecerdasan emosi? Menurut Wikipedia, Kecerdasan Emosi atau Emotional Intelligence (EI) menggambarkan kemampuan, kapasitas, keterampilan atau, dalam kasus EI sifat model, kemampuan diri, untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengelola emosi diri sendiri, orang lain, dan kelompok.
Mengapa begitu penting? Emosi berkaitan dengan keputusan dan tindakan. Jika emosi tidak dikelola dengan baik, masihkah berharap bahwa keputusan dan tindakan kita juga baik?
Dari berbagai literatur, saya menemukan ada 5 dasar kecerdasan emosional. Kelima dasar itu adalah

  1. Mengetahui perasaan Anda dan menggunakannya untuk membuat keputusan dalam hidup Anda.
  2. Mampu mengatur kehidupan emosional Anda tanpa dibajak oleh emosi-emosi negatif seperti depresi, marah, kebingungan, dan sebagainya.
  3. Bertahan dalam menghadapi kemunduran dan menyalurkan dorongan Anda untuk mengejar tujuan-tujuan Anda.
  4. Empati – membaca emosi orang lain tanpa mereka memberi tahu Anda apa yang mereka rasakan.
  5. Penanganan perasaan. Termasuk kemampuan membaca dan mengartikulasikan emosi yang tersirat
Lalu siapa teladan kita dalam hal kecerdasan emosi? Tentu saja, tiada lain dan tiada bukan, teladan kita adalah Rasulullah saw. Banyak literatur yang membahasnya, tetapi Al Quran dan Hadits-lah sumber rujukan utama kita.
Jika kita meneladani bagaimana cara Rasulullah saw berinteraksi dengan orang-orang sekitar beliau, dengan keluarga, bahkan dengan orang-orang yang menentang beliau, kita bisa petik bagaimana kecerdasan emosi beliau yang mengagumkan. Itulah praktek utama kecerdasan emosi.

copy from; http://www.motivasi-islami.com/

Selasa, 30 November 2010

SepAk bola Api

Dalam satu bulan terakhir perhatian miliaran penduduk bumi tertuju ke Afrika Selatan, tempat sejumlah negara bertanding guna memperebutkan piala bergilir World Cup. Pemain-pemain tangguh dunia saling beradu dan mempertontonkan kepiawaian dan kelincahan mereka bermain dan memainkan si kulit bundar hingga menembus gawang musuh.
Olah raga Sepak Bola diperkirakan sudah ada semenjak 2-3 abad SM. Ia berasal dari China. Di sana disebut Tsu Chu. Tsu berarti “menendang bola dengan kaki”. Sedangkan Chu artinya “bola dari kulit dan ada isinya”. Selanjutnya, permainan ini menyebar ke seluruh pelosok dunia dan paling digemari banyak orang.
Namun, berbeda dengan Tsu Chu yang bolanya terbuat dari kulit dan di dalam berisi angin, santri-santri Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin biasa bermain sepak bola yang bolanya terbuat dari api. Setiap menjelang Akhirussanah, santri-santri di Pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon merayakannya dengan pentas seni sepak bola api. Di pondok pesantren yang didirikan pada 1715 M itu, permainan ini sudah mentradisi sejak tahun 50an di.
Sepak bola api sebetulnya tidak jauh berbeda dengan sepak bola pada umumnya. Hanya saja, bolanya terbuat dari buah kelapa yang sudah kering, kemudian dikuliti lapisan luarnya. Setelah itu, di rendam di minyak tanah selama beberapa minggu. Pada saat akan dimainkan, bolanya dibakar dan dimainkan ketika menyala.
Berbeda dengan sepak bola biasa, sepak bola api tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, keberanian, kecerdikan, kepiawaian serta ketangkasan dalam memainkan bola, melainkan harus dibekali ketangguhan psikis dan kekuatan spiritual. Sebelum bermain, para santri harus melewati “ritual khusus” agar tahan panas dan tidak mempan api.
Mereka harus berpuasa selama 21 hari, mengamalkan aurad-aurad (wiridan/bacaan) tertentu, yang dibaca di waktu-waktu khusus, menghindari makanan-makanan yang dimasak dengan api (bila al-nar), mengandung unsur nyawa (bila al-ruh), dan biasanya diakhiri dengan “matigeni” (puasa satu hari satu malam tanpa tidur).
Setelah melewati ”ritual” tersebut, para santri memiliki kekuatan tahan panas dan tidak mempan api, sehingga dengan leluasa menendang, memegang, bahkan menyundul bola api tanpa merasakan panas, gosong, apalagi terbakar. Seolah-olah api itu sudah “ditundukkan” dan “dijinakkan” sehingga tidak lagi berbahaya, malah dijadikan tontonan dan permainan.
Biasanya, sebelum pertandingan bola api dimulai, para santri mementaskan segala permainan yang berhubungan dengan api, misalnya tongkat api, menggoreng pisang dengan tangan telanjang, hingga “mandi petasan” (melilitkan petasan renteng sebesar jempol kaki ke sekujur tubuh kemudian ditabuh).
Permainan-permainan tersebut seakan telah membalik ketentuan dan keteraturan hukum alam. Api yang seharusnya panas dan membakar, tidak lagi tunduk dan patuh pada asal kejadiannya.
Meneladani kisah Nabi Ibrahim AS
Dalam Islam, fenomena seperti itu sebetulnya sudah ada preseden sejarahnya, sebagaimana yang diceritakan di dalam a-Quran Surat Al-Anbiya. Waktu itu, Nabi Ibrahim AS dibakar hidup-hidup oleh Namrud, Raja Mesopotamia, karena dianggap telah menghina dan menghancurkan “tuhan-tuhan” mereka berupa Berhala.
Nabi Ibrahim dihukum dengan cara dibakar hidup-hidup. Namun, dalam kobaran dan jilatan api, Nabi Ibrahim malah menggigil kedinginan. Allah SWT, melalui Jibril, memerintahkan pada api agar menjadi dingin dan memberikan keselamatan pada kekasihnya itu (QS. Al-Anbiya 69)
Ismail Haqi dalam “Ruh al-Bayan” menceritakan: semenjak kejadian itu, dalam beberapa hari api tidak lagi panas (dingin). Nabi Ibrahim berada di dalam kobaran api sekitar 40-50 hari. Namun, di tengah-tengah kepungan dan gumpalan api, Ibrahim malah mendapatkan pengalaman terindah dalam hidupnya. “Tidak ada kehidupan yang paling indah selain ketika aku berada di dalam api,” kata Ibrahim.
Sementara, Ibnu Katsir mencoba memberikan alasan tidak terbakarnya Nabi Ibrahim. Menurutnya, api adalah dzat (substansi), sedangkan potensi yang dihasilkan api, semisal “panas” dan “membakar” adalah sifatnya (aksiden). Tidak terbakarnya Ibrahim karena Allah SWT sebagai Prima Cause (penyebab pertama) sudah melepaskan sifat-sifat tersebut, tetapi tetap membiarkan dzatnya berupa sinar dan nyala api.
Berbeda dengan panafsiran mainstream, Ibnu Arabi memahami peristwa dibakarnya Nabi Ibrahim bukanlah peristiwa sebenarnya. Kejadian itu bukanlah peristiwa historis yang mengacu pada realitas kongkrit. Menurutnya, ayat itu berbicara tentang perjalanan spiritual (al-wushul hal al-fana’) menuju panyatuan dengan Tuhannya. Api yang yang digambarkan dalam ayat itu adalah api cinta (al-isyq) yang membakar seseorang ketika melihat alam malakut.
Apapun pendapat dan interpretasinya, kejadian suprahuman dan supranatural seperti yang dialami Ibrahim, dalam Islam dikenal dengan nama mukjizat. Mukjizat diberikan Allah SWT kepada Nabi-Nabi-Nya sebagai bentuk legalitas kenabian sekaligus sebagi senjata untuk menundukkan dan mengalahkan musuh-musuh-Nya. Salah satunya mukjizat Nabi Ibrahim berupa kekebalan terhadap api.
Menurut Abu Zahrah, selain mukjizat Nabi Muhammad SAW berupa al-Quran, mukjizat Nabi-Nabi sebelumnya bisa bisa ditiru (dipelajari) dan dipraktikkan oleh umat Nabi Muhammad SAW. Nah, apa yang dilakukan santri-santri di Babakan, Ciwaringin, Cirebon merupakan hasil belajar dari kisah dan teladan yang dilakukan Ibrahim.
Bukan tontonan tapi tuntunan
Suatu ketika sebuah stasiun televisi swasta melakukan liputan khusus pertandingan sepak bola api untuk ditayangkan pada program khusus di televisi tersebut. Di tengah-tengah permainan, tiba-tiba host acara tersebut yang kebetulan orang Bule meminta ikut pertandingan. Tanpa puasa dan tanpa melewati ritual khusus, si Bule berbaur mengikuti pertandingan sampai selesai. Ternyata, ia tidak gosong juga tidak terbakar. Mengapa?
Memang, permainan sepak bola api bukanlah satu-satunya tradisi milik santri di Pesantren Babakan Ciwaringin, melainkan di daerah-daerah lain di Indonesia juga mempunyai tradisi yang sama. Bahkan, di daerah tertentu, bola api dimainkan oleh anak-anak kecil. Namun, rata-rata menggunakan trik dan kecepatan kaki sehingga tidak panas dan tidak sampai terbakar.
Dengan demikian, kalau hanya sekadar tontonan dan hiburan, bola api bisa dimainkan oleh siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Sebagaimana ketika pemodal (media massa) mengambil alih tradisi ini sebagai sebuah komoditas yang diproduksi, direproduksi secara massal, ia tidak lagi memiliki makna apa-apa selain sebuah “pertunjukan” yang berorientasi materi.
Tetapi, bagi santri-santri di Pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon, sepak bola api bukanlah sekadar tontonan yang menghibur, melainkan mengandung sebuah tuntunan, pesan dan dakwah. Untuk memainkan permainan langka ini, para santri harus melakukan latihan spiritual (riadloh), seperti puasa dan menghindari makanan-makanan tertentu.
Dalam diri setiap manusia terdapat unsur (anasir) api. Api adalah nafsu yang membakar, menghuni, sekaligus menguasai setiap manusia. Orang yang membiarkan dirinya terbakar oleh nafsu, maka seluruh sikap, prilaku, dan tindakan akan berpotensi merusak. Sehingga, timbulah kekacauan (chaos), kerusakan, ketidakstabilan, dan disharmoni.
Oleh karena itu, agar hidup manusia tidak didikte dan dikendalikan oleh nafsu, maka ia harus dijinakkan dengan cara berpuasa dan melakukan keselarasan dan keseimbangan (harmoni) dengan alam (pantangan memakan makanan yang mengandung unsur nyawa dan dimasak dengan api). Dengan ini, terjadilah keseimbangan, keselarasan, dan keharmonisan hidup dan kehidupan (back to nature).
Bola api, bagi santri-santri Babakan Ciwaringin, adalah semacam ritual olah batin atau latihan spiritual yang tujuannya untuk mendekatkan diri dengan sedekat-dekatnya kepada Tuhan, sekaligus menunjukkan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas, yang dikemas dalam bentuk olah raga dan hiburan.
Lantas, bagaimana dengan sepak bola? Makna apa yang bisa kita petik dari permainan ini?


CopY frOm; http://olahraga.kompasiana.com/

ManFaat JOggiNg

STUDI dalam beberapa tahun terakhir semakin mengukuhkan bahwa berjalan tergopoh-gopoh dan bukan jalan santai memang memberi banyak manfaat bagi kesehatan kita. Inilah sembilan manfaat yang dapat diperoleh dari aktivitas jalan kaki
(1)   Serangan Jantung.
Pertama-tama tentu menekan risiko serangan jantung. Kita tahu otot jantung membutuhkan aliran darah lebih deras (dari pembuluh koroner yang memberinya makan) agar bugar dan berfungsi normal memompakan darah tanpa henti. Untuk itu, otot jantung membutuhkan aliran darah yang lebih deras dan lancar. Berjalan kaki tergopoh-gopoh memperderas aliran darah ke dalam koroner jantung. Dengan demikian kecukupan oksigen otot jantung terpenuhi dan otot jantung terjaga untuk bisa tetap cukup berdegup.
Bukan hanya itu. Kelenturan pembuluh darah arteri tubuh yang terlatih menguncup dan mengembang akan terbantu oleh mengejangnya otot-otot tubuh yang berada di sekitar dinding pembuluh darah sewaktu melakukan kegiatan berjalan kaki tergopoh-gopoh itu. Hasil akhirnya, tekanan darah cenderung menjadi lebih rendah, perlengketan antarsel darah yang bisa berakibat gumpalan bekuan darah penyumbat pembuluh juga akan berkurang.
Lebih dari itu, kolesterol baik (HDL) yang bekerja sebagai spons penyerap kolesterol jahat (LDL) akan meningkat dengan berjalan kaki tergopoh-gopoh. Tidak banyak cara di luar obat yang dapat meningkatkan kadar HDL selain dengan bergerak badan. Berjalan kaki tergopoh-gopoh tercatat mampu menurunkan risiko serangan jantung menjadi tinggal separuhnya.
(2). Stroke.
Kendati manfaat berjalan kaki tergopoh-gopoh terhadap stroke pengaruhnya belum senyata terhadap serangan jantung koroner, beberapa studi menunjukkan hasil yang menggembirakan. Tengok saja bukti alami nenek-moyang kita yang lebih banyak melakukan kegiatan berjalan kaki setiap hari, kasus stroke zaman dulu tidak sebanyak sekarang. Salah satu studi terhadap 70 ribu perawat (Harvard School of Public Health) yang dalam bekerja tercatat melakukan kegiatan berjalan kaki sebanyak 20 jam dalam seminggu, risiko mereka terserang stroke menurun duapertiga.
(3). Berat badan stabil.
Ternyata dengan membiasakan berjalan kaki rutin, laju metabolisme tubuh ditingkatkan. Selain sejumlah kalori terbuang oleh aktivitas berjalan kaki, kelebihan kalori yang mungkin ada akan terbakar oleh meningkatnya metabolisme tubuh, sehingga kenaikan berat badan tidak terjadi.
(4). Menurunkan berat badan.
Ya, selain berat badan dipertahankan stabil, mereka yang mulai kelebihan berat badan, bisa diturunkan dengan melakukan kegiatan berjalan kaki tergopoh-gopoh itu secara rutin. Kelebihan gajih di bawah kulit akan dibakar bila rajin melakukan kegiatan berjalan kaki cukup laju paling kurang satu jam.
(5). Mencegah kencing manis.
Ya, dengan membiasakan berjalan kaki melaju sekitar 6 km per jam, waktu tempuh sekitar 50 menit, ternyata dapat menunda atau mencegah berkembangnya diabetes Tipe 2, khususnya pada mereka yang bertubuh gemuk (National Institute of Diabetes and Gigesive & Kidney Diseases).
Sebagaimana kita tahu bahwa kasus diabetes yang bisa diatasi tanpa perlu minum obat, bisa dilakukan dengan memilih gerak badan rutin berkala. Selama gula darah bisa terkontrol hanya dengan cara bergerak badan (brisk walking), obat tidak diperlukan. Itu berarti bahwa berjalan kaki tergopoh-gopoh sama manfaatnya dengan obat antidiabetes.
(6). Mencegah osteoporosis.
Dengan gerak badan dan berjalan kaki cepat, bukan saja otot-otot badan yang diperkokoh, melainkan tulang-belulang juga. Untuk metabolisme kalsium, bergerak badan diperlukan juga, selain butuh paparan cahaya matahari pagi. Tak cukup ekstra kalsium dan vitamin D saja untuk mencegah atau memperlambat proses osteoporosis. Tubuh juga membutuhkan gerak badan dan memerlukan waktu paling kurang 15 menit terpapar matahari pagi agar terbebas dari ancaman osteoporosis.
Mereka yang melakukan gerak badan sejak muda, dan cukup mengonsumsi kalsium, sampai usia 70 tahun diperkirakan masih bisa terbebas dari ancaman pengeroposan tulang.
(7). Meredakan encok lutut.
Lebih sepertiga orang usia lanjut di Amerika mengalami encok lutut (osteoarthiris). Dengan membiasakan diri berjalan kaki cepat atau memilih berjalan di dalam kolam renang, keluhan nyeri encok lutut bisa mereda. Untuk mereka yang mengidap encok lutut, kegiatan berjalan kaki perlu dilakukan berselang-seling, tidak setiap hari. Tujuannya untuk memberi kesempatan kepada sendi untuk memulihkan diri.
Satu hal yang perlu diingat bagi pengidap encok tungkai atau kaki: jangan keliru memilih sepatu olahraga. Kita tahu, dengan semakin bertambahnya usia, ruang sendi semakin sempit, lapisan rawan sendi kian menipis, dan cairan ruang sendi sudah susut. Kondisi sendi yang sudah seperti itu perlu dijaga dan dilindungi agar tidak mengalami goncangan yang berat oleh beban bobot tubuh, terlebih pada yang gemuk.
Bila bantalan (sol) sepatu olahraganya kurang empuk, sepatu gagal berperan sebagai peredam goncangan (shock absorber). Itu berarti sendi tetap mengalami beban goncangan berat selama berjalan, apalagi bila berlari atau melompat. Hal ini yang memperburuk kondisi sendi, lalu mencetuskan serangan nyeri sendi atau menimbulkan penyakit sendi pada mereka yang berisiko terkena gangguan sendi.
Munculnya nyeri sendi sehabis melakukan kegiatan berjalan kaki, bisa jadi lantaran keliru memilih jenis sepatu olahraga. Sepatu bermerek menentukan kualitas bantalannya, selain kesesuaian anatomi kaki. Kebiasaan berjalan kaki tanpa alas kaki, bahkan di dalam rumah sekalipun, bisa memperburuk kondisi sendi-sendi tungkai dan kaki, akibat beban dan goncangan yang harus dipikul oleh sendi.
(8) Depresi.
Ternyata bergerak badan dengan berjalan kaki cepat juga membantu pasien dengan status depresi. Berjalan kaki tergopoh-gopoh bisa menggantikan obat antidepresan yang harus diminum rutin. Studi ihwal terbebas dari depresi dengan berjalan kaki sudah dikerjakan lebih 10 tahun.
(9). Kanker
juga dapat dibatalkan muncul bila kita rajin berjalan kaki, setidaknya jenis kanker usus besar (colorectal carcinoma). Kita tahu, bergerak badan ikut melancarkan peristaltik usus, sehingga buang air besar lebih tertib. Kanker usus dicetuskan pula oleh tertahannya tinja lebih lama di saluran pencernaan. Studi lain juga menyebutkan peran berjalan kaki terhadap kemungkinan penurunan risiko terkena kanker payudara.
Akhir2 ini, jogging bisa diakukan dengan tanpa kena debu di jalanan, tetapi melainkan dilakukan di dalam ruangan. Kalau ingin mencobanya, silahkan berkunjung ke Balai Kesehatan Olahraga Masyarakat (BKOM) Makassar Jl. Wijaya Kusuma Raya No.2 Makassar.

Copy from; http://balaiolahragamks.wordpress.com/

Minggu, 28 November 2010

Bahaya Bagi perokok Pasif

Bila orang sakit akibat perilaku hidup yang kurang sehat, itu adalah suatu hal yang wajar. Tapi bagaimana untuk orang yang sakit, akibat dari perbuatan orang lain? Memang suatu hal yang tidak adil. Demikian yang terjadi bagi orang yang terpaksa harus menghirup asap rokok dari orang-orang sekelilingnya yang merokok.
Penyakit yang dapat diderita perokok pasif ini tidak lebih baik dari perokok aktif. Mereka menjadi mudah menderita kanker, penyakit jantung, paru dan penyakit lainnya yang mematikan. Mereka yang dikelilingi oleh asap rokok akan lebih cepat meninggal dibanding mereka yang hidup dengan udara bersih. Dan angka kematiannya meningkat 15% lebih tinggi.
Dari penelitian terhadap 1.263 pasien kanker paru-paru yang tidak pernah merokok, terlihat bahwa mereka yang menjadi perokok pasif di rumah akan meningkatkan risiko kanker paru-paru hingga 18%. Bila hal ini terjadi dalam waktu yang lama, 30 tahun lebih, risikonya meningkat menjadi 23%. Bila menjadi perokok pasif di lingkungan kerja atau kehidupan sosial, risiko kanker paru-paru akan meningkat menjadi 16% sedang bila berlangsung lama, hingga 20 tahun lebih, akan meningkat lagi risikonya menjadi 27%.
Asap rokok diketahui telah mengandung sekitar 4.000 bahan kimiawi, dimana 60 diantaranya diketahui dapat menyebabkan kanker. Pemerintah Amerika sendiri memperkirakan bahwa setiap tahunnya terjadi 3.000 kematian akibat kanker paru-paru pada mereka yang tidak merokok sebagai akibat menjadi perokok pasif. 


copy fRom; http://www.dechacare.com/

Impotensi Lebih Sering Terjadi pada Perokok

Laki-laki yang merokok lebih dari 20 batang dalam seharinya tampaknya akan mengalami impotensi 40% lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak merokok, laporan hasil penelitian.
Peneliti sudah menemukan satu hubungan yang kuat antara jumlah rokok yang di hisap dengan tingkat kesulitan mencapai ereksi.
Lebih dari 8.000 laki-laki di Australia yang berusia antara 16 dan 59 tahun dinilai problem ereksi yang mereka alami.
Lebih dari seperempat dari mereka adalah perokok, satu dari 5 partisipan tersebut merokok kurang dari 20 batang per harinya, dan hanya 6% dari mereka yang merokok lebih dari 20 batang per harinya.
Ketika dibandingkan dengan mereka yang tidak merokok, mereka yang merokok kurang dari 20 batang perharinya, lebih dari 24% dilaporkan sulit melakukan ereksi, sedangkan mereka yang yang merokok lebih dari 20 batang perharinya dilaporkan sebesar 40% mengalami kesulitan ereksi.
Penelitian ini dilakukan oleh Australian Study of Health dan dipublikasikan oleh Tobacco Control, dari British Medical Journal.

COPY FROm; http://www.dechacare.com/